Posts

Showing posts from March, 2018

Warna Empat Negeri Pemberontak

Lagi, tetapi sekarang dengan lantunan yang agak berbeda serta dengan termin yang lebih banter dari sebelumnya. Suara iqomat -lah yang membangunkan Abrar kali ini. Gubuk Abrar memang tidak jauh dari langgar –tempat di mana warga kampung biasa menyembah Sang Pemilik Jagad Raya-. Setelah iqomat selesai, tidak ada suatu gerakan pun yang dilakukan oleh Abrar –terkecuali gerakan perutnya yang mengembung lalu mengempis, begitu pun seterusnya-. Seorang berwajah keriput pun membangunkan Abrar, memecahkan segala lamunan mengenai peristiwa yang barusan terjadi.                 Serasa meninggalkan sesuatu yang Abrar semayami selama ini, jiwanya lucut entah kemana. Berat otak Abrar dengan pertanda ini. Dua rakaat Abrar tertinggal, hasil dari semua itu, seseorang menepuk pundak kanannya sehingga Abrar harus melantangkan suaranya lebih keras lagi. Ditengokkanlah kepalanya ke arah kiri sambil mengucap pelafalan dalam bahasa Arab, pertanda apa yang menjadi kewajibannya telah dilaksanakan. Sembari me

Keraguan

Akankah diri ini tetap bertahan disana? Dalam kesepian, kegelapan, dan dingin yang membekukan hati Hanya menunggu waktu yang tepat, untuknya menarikku dalam penjara kepedihan Akankah diri ini mampu berdiri disana? Dalam badai dan hujan yang dapat menggoyahkan hati Hanya memilih, untuk tetap kokoh atau tumbang karenanya Akankah diri ini selalu percaya? Kepadanya yang mencelakai untuk bisa menyelamatkan Karena jawaban hanya kamu yang bisa menentukan Oleh: Ristya Vibiyana (Jurnalistik Sains 2016)

Perisai Getar Penumbuh Sangkakala

Pirsa… Renungan garis bergetah dosa Seraya bergumam di ujung paksa Berteduh guna bersujud Esa Langguk umat tersua berkat Kiblat bertamu berujung tekat Hingga tamat, Ingat… Denyut semesta tanpa akurat Tiada absah   di dalam darah Tiada getah di dalam pasrah Melajulah… Bukankah engkau paham arti belukar? Mereka dingin tersayat lara Yang tentu sanggup menghapus rekah Oleh:  Rayhan Rizqi Bebryan (Jurnalistik Sains 2017)