Posts

Nyaman Itu Kalau Sudah Biasa

                           “Aku nggak nyaman kalau di sana”, “Kayaknya gue nggak cocok dech sama tempat kita ini”, “Aku pilih di sini aja ah, orangnya asyik-asyik”. Pernah dengar kalimat seperti itu, atau minimal intinya sama, keluar dari mulut teman kita maupun orang yang kita kenal? Ya, pasti sebagian dari kita akan bilang “pernah”. Terus apa maksudnya? Apa hubungannya kalimat-kalimat itu dengan judul artikel ini? Ini sangat tidak penting, jika kamu adalah tukang menyerah.                           Nyaman adalah sebuah kata sifat atau keterangan yang berarti perasaan tenang atau cocok dengan suatu keadaan atau lingkungan. Perasaan ini memang tidak bisa dipaksakan. Tidak seperti anak kecil yang bisa dipaksa untuk makan sayuran. Juga tidak seperti kentut yang bisa ditahan untuk tak keluar ketika sedang presentasi di depan publik. Apapun analoginya, n...

Pers “Membentuk” Realita?

Kita semua memahami makna dari pers bagi kehidupan masyarakat yang demokratis. Dalam masyarakat demokrasi, pers berperan sebagai ‘ public watch dog ’ yang mengawasi jalannya penggunaan kekuasaan oleh lembaga-lembaga negara. Namun kita bisa melihat dengan jelas adanya satu pertanyaan sederhana yang muncul, ‘jika pers mengawasi lembaga-lembaga negara, lantas siapa yang mengawasi pers?’ Pertanyaan ini mungkin terdengar agak konyol bagi sebagian orang, namaun bagaimanapun juga itu adalah pertanyaan yang sangat masuk akal. Meski tidak secara langsung memerintah suatu negara, pers memiliki kemampuan yang luar biasa besar dalam membentuk pendapat publik. Ada sebuah contoh sederhana bagaimana pers membentuk opini masyarakat. Contoh paling sederhana, misalnya saja saat kita ditanya, jika ada dua rumah yang berbeda, di salah satu rumah ada kolam renang dan di rumah yang lain ada sepucuk senjata api, kira-kira ke rumah yang mana orang tua akan lebih banyak melarang anaknya pergi? Jawaban ya...

Dunia Jurnalistik Sebagai Pelengkap Trias Politica dan Sebagai Media Aspirasi Bangsa

Kata-kata Trias Politica pertama kali digagas oleh ahli filosofi Perancis JJ. Reasau. Kata-kata yang mengandung unsur politik sebuah negara yaitu Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif ini di pakai oleh banyak  negara-negara di dunia, sebut saja negara kita Indonesia. Negara yang jumlah penduduknya banyak dan negaranya luas. Namun ada satu yang kini mempunyai peran penting bagi dunia, khusunya Indonesia yaitu dunia Jurnalistik. Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb, namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau tel...

Selamat Datang di Era Informasi

Information is a power. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan sehari-hari saat ini tidak terlepas dari informasi. Informasi menjadi hal yang begitu berarti. Permasalahan pada seseorang datang dari apa yang dia ketahui dengan apa yang tidak dia ketahui. Mereka yang mengetahui lebih banyak informasi akan mendapatkan keuntungan tersendiri. Bahkan, ada pendapat bahwa siapa yang dapat menguasai informasi, dia akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil. Ya, sekarang ini sudah bukan saatnya lagi  hanya berangan-angan  dapat memiliki kantong ajaib ketika kita ingin ini, ingin itu, banyak sekali. Pada kenyatannya ada senjata yang lebih ampuh yang harus kita miliki untuk dapat menggenggam dunia. Selamat datang di era informasi. Mendengar kata informasi, akan ada banyak hal yang dapat kita hubungkan. Berita, jurnalistik, dan media adalah tiga hal yang berhubungan sangat erat dengan kata informasi disamping hal-hal yang lain. Kegiatan jurnalistik menghasilkan berita yang di...

Sinopsis Diri

            Beberapa hari yang lalu, ketika itu sore hari. Di panas yang cukup terik aku arahkan kendaraanku ke sebuah toko buku besar di kota Jogja ini. Dengan segera langkah ini membawaku ke lantai atas di mana ratusan bahkan ribuan buku berjajar di sana. Mereka hanya diam di antara kebisingan orang-orang, atau aku yang tak mendengar celotehan mereka. Entahlah.              Sejauh mata memandang yang nampak hanya rak-rak berhias aneka ragam buku. Buku anak, buku kecil, buku besar, buku novel, hingga buku yang aku pikir kurang penting pun ada di sana. Rak buku pertama. Aku tak melihat yang menarik. Begitu juga orang di depanku ini. Rak buku kedua, masih sama. Aku hanya selintas membaca sinopsis sebuah buku yang tertulis di sampul belakangnya. Kurang menarik pikirku. Tak beda, orang di depanku juga menaruh kembali buku yang diambil.          Tak terasa puluhan me...

Berpikir Nyata Melalui Dunia Maya

Siang malam ku selalu menatap layar terpaku untuk online, online, online, online. Jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku online, online, online, online (Online-Saykoji) Sepenggal lirik lagu di atas merupakan cerminan nyata masyarakat dewasa ini. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi era modern, terutama internet, telah mengubah arus dan gaya komunikasi. Dahulu saat internet masih merupakan barang mahal, face to face secara langsung adalah cara komunikasi yang sangat lumrah di tengah masyarakat. Namun kini sejak kemajuan era cyber , gaya komunikasi masih bertahan dengan face to face , hanya bedanya terdapat sekat di antara face yaitu dunia maya. Seperti yang diucapkan orang-orang, “internet mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” . Secara nyata, dapat dilihat banyak orang berkomunikasi lewat jendela chat padahal tempat duduk mereka terpisah tak lebih dari satu meter.             ...

Mata Elang

Aku masih ingat ketika kau menjabat tanganku untuk pertama kalinya. Kau jabat tanganku dengan erat kemudian kau sebutkan namamu. Kubalas jabatan itu dan kusebutkan pula namaku. Lalu kita saling tersenyum menggambarkan betapa indahnya perkenalan itu. Yang kurasa saat itu adalah kau yang begitu yakin dalam setiap sikapmu, kau yang tegas, dan kau yang begitu ramah. Matamu yang tajam mengisyaratkan betapa kau sangat disegani teman-temanmu. Mata elangmu itu yang buatku terkesima. Mata elangmu itu yang buatku yakin akan setiap keputusanmu. Hari-hari yang pernah kita lalui bersama. Hari-hari di mana kita tak sepaham. Semua itu adalah kenangan kita yang sangat berharga. Novel-novel tebal karya J.K. Rowling pun tak sanggup mengalahkan tebalnya buku untuk menulis jutaan kenangan kita. Masih kuingat ketika kau memberiku hadiah topi warna biru itu. Kau bilang agar rambutku tak mudah berketombe lagi. Tapi nyatanya tetap saja itu tak berpengaruh. Dengan tersenyum kau berkata kepadaku bahwa ketombe a...